Wednesday, 2 October 2013

3 Pendekar dan benda asing itu namanya plastik

    Pada suatu hari di planet Pendekar, dimana semua penduduknya memiliki jiwa seorang pendekar, juga memiliki ilmu kesaktian yang beragam untuk menunjukkan dirinya sebagai pendekar paling hebat, dikunjungi oleh suatu benda aneh dari langit. Benda itu mengapung di udara seperti burung dan para pendekar Ringan Badan, hanya saja benda ini sangat besar dan mengeluarkan api seperti yang dimiliki pendekar Elemental. Semua pendekar penasaran, lalu mencoba mendekati benda ini, bahkan pendekar Panahan mulai menembakan anak panah-anak panah nya ke benda tersebut, tetapi memantul begitu saja, kulit benda ini bahkan tak menunjukkan lecet sedikitpun, bahkan para pendekar tubuh batu pun bisa tergores oleh anak panah para pendekar Panahan.
Tiba-tiba benda teresebut mengeluarkan bunyi sirine yang keras, dan mengeluarkan benda asing lainnya dari bagian bawah dengan tiba-tiba. Benda-benda berwarna-warni, berbagai bentuk, dan berbagai ukuran, menumpuk begitu saja menjadi gundukan yang besar, lebih besar dari gunung Tinju Api dimana pendekar Tangan Kosong berlatih. Tak lama setelah benda tersebut membuang ‘kotoran’, benda melayang tersebut kemudian terbang begitu saja setelah sekali lagi membunyikan sirine keras, meninggalkan setumpuk kotoran di planet Pendekar.
    “Barang apaan sih ini?” ungkap seorang pendekar berkepala botak seraya mengendus benda tersebut “Gak ada baunya, aneh amat” tanpa basa basi pendekar tersebut memukul dengan keras benda tersebut, tetapi benda tersebut hanya penyok. Pendekar lain mulai riuh rendah karena pendekar Tangan Kosong terkenal dapat menghancurkan batu karang menjadi debu dengan sekali pukul, dan benda ini bahkan bolong pun tidak. Merasa direndahkan, jiwa pendekar Tangan Kosong membara dan melempar benda tersebut ke udara, disusul dengan lompatannya sembari melemparkan pukulan-pukulan cepat dan bertenaga disertai dengan gerakan mengitari benda tersebut seperti bulan mengikuti orbitnya. Jurus pamungkas ini ternyata hanya meninggalkan penyok-penyok lainnya pada benda tersebut.
    Dari balik kerumunan tiba-tiba muncul dua orang pendekar lainnya, yang satu membawa pedang, dan yang satu lagi hanya membawa tongkat kecil “ Wah… Wahh… gak disangka abang Tang Song si Pendekar Tangan Kosong jurusnya cemen” ungkap si pendekar Pedang “Sini, biar gw tebas benda itu sampe jadi serpihan-serpihan”
    “Hei, gw dulu sini yang coba ngancurin” tukas pendekar satu lagi yang membawa tongkat kecil “jurus Elemental gw paling sakti so’al hancur menghancurkan benda” lanjut dia dengan bangga.
    Setelah pendekar Elemental menyelesaikan kalimatnya, benda-benda tersebut sudah ditebas oleh sang pendekar Pedang menjadi serpihan-serpihan “Lu tadi ngomong apa Din?” tanya si pendekear Pedang dari atas tumpukan tersebut.
    “Parah lu Dang, main serobot aja! Lagian tu barang masih numpuk gitu” sergah pendekar Elemental.
    “Yang penting gw berhasil ngancurin dong, daripada penyok-penyok doang”
    “Heh, Apa lu bilang !? sini turun lu, gw patahin pedang lu pake kelingking gw sini!” jawab pendekar Tangan Kosong dengan penuh emosi.
    Tanpa memperhatikan gertakan Tang Song si pendekar Tangan Kosong, Dadang melanjutkan kata-katanya “Ah, diemin aja sih, ntar juga ilang sendiri membusuk jadi tanah” semua orang nampak setuju, tapi mereka salah besar, benda ini tidak dapat membusuk, atau larut oleh air. Hari demi hari, benda ini tersapu angin dan terbawa air, dalam beberapa bulan mulai menimbulkan berbagai macam masalah seperti banjir di sekitaran sungai akibat alirannya yang tertahan, juga membuat berantakan di berbagai tempat karena serpihan-serpihan benda tersebut yang tidak kunjung hilang.
    Sekali lagi para pendekar berkumpul sembari mengumpulkan serpihan -serpihan benda tersebut sesuai instruksi dari pendekar Elemental  “dari awal mestinya gw lakukan ini” kata Jardin si pendekar Elemental “BERGESEKANLAH KALIAN DAN CIPTAKAN API MEMBARA!” teriak Jardin sembari mengayunkan tongkat kecilnya. Dalam hitungan detik tumpukan benda tersebut langsung diselimuti api, para pendekar mulai bersorak riuh melihat benda tersebut akan musnah, sebelum asap hitam mulai mengepul dari tumpukan benda tersebut, dan bau yang menyesakan merebak. Dengan sigap Jardin mengayunkan lagi tongkatnya memangil angin lembab untuk memadamkan api. Meski apinya telah padam, benda tersebut mulai bergerak, meleleh mengarah ke bantaran sungai, semua pendekar mencoba menghentikannya, akan tetapi lelehan tersebut terlalu panas bagi mereka, dan malah menempel di pedang Dadang si pendekar Pedang.
    Akan tetapi ilmu tangan besi Tong Song si pendekar Tangan Kosong bisa bertahan, dia menangkap dan melempar-lempar lelehan benda tersebnut ke udara, diikuti oleh pendekar Tangan Kosong lainnya. Sekali lagi sembari meninju-ninju benda tersebut di udara untuk menghempaskan benda tersebut jauh dari sungai. Setelah bneberapa saat, benda tersebut mendingin dan berhenti meleleh, dan benda-benda yang dihempaskan oleh para pendekar Tangan Kosong membentuk objek-objek yang menarik, beberapa tanpa malu-malu menyentu benda tersebut, dan ternyata lembek seperti tanah liat, yang lain malah iseng membentuk benda-benda tersebut menjadi seperti dirinya, orang yang dicintainya, dihormatinya, atau binatang piaraan mereka. Dan setelah beberapa saat benda tersebut mengeras dan menjadi seperti benda yang mereka temukan pertama kali. Mereka menyimpulkan bahwa benda ini bisa di ubah bentuknya bila dipanaskan dan dibentuk menjadi benda yang mereka mau, benda ini tak sehebat besi, akan tetapi sangat ringan dan mudah dibentuk. Pelan-pelan mereka semakin paham pengolahan benda ini, mengubahnya menjadi perlengkapan-perlengkapan dan perlatan-peralatan yang berguna bagi kehidupan para pendekar.