Pada suatu hari di planet Pendekar, dimana semua penduduknya memiliki
jiwa seorang pendekar, juga memiliki ilmu kesaktian yang beragam untuk
menunjukkan dirinya sebagai pendekar paling hebat, dikunjungi oleh suatu
benda aneh dari langit. Benda itu mengapung di udara seperti burung dan
para pendekar Ringan Badan, hanya saja benda ini sangat besar dan
mengeluarkan api seperti yang dimiliki pendekar Elemental. Semua
pendekar penasaran, lalu mencoba mendekati benda ini, bahkan pendekar
Panahan mulai menembakan anak panah-anak panah nya ke benda tersebut,
tetapi memantul begitu saja, kulit benda ini bahkan tak menunjukkan
lecet sedikitpun, bahkan para pendekar tubuh batu pun bisa tergores oleh
anak panah para pendekar Panahan.
Tiba-tiba
benda teresebut mengeluarkan bunyi sirine yang keras, dan mengeluarkan
benda asing lainnya dari bagian bawah dengan tiba-tiba. Benda-benda
berwarna-warni, berbagai bentuk, dan berbagai ukuran, menumpuk begitu
saja menjadi gundukan yang besar, lebih besar dari gunung Tinju Api
dimana pendekar Tangan Kosong berlatih. Tak lama setelah benda tersebut
membuang ‘kotoran’, benda melayang tersebut kemudian terbang begitu saja
setelah sekali lagi membunyikan sirine keras, meninggalkan setumpuk
kotoran di planet Pendekar.
“Barang apaan sih ini?” ungkap seorang pendekar berkepala botak seraya
mengendus benda tersebut “Gak ada baunya, aneh amat” tanpa basa basi
pendekar tersebut memukul dengan keras benda tersebut, tetapi benda
tersebut hanya penyok. Pendekar lain mulai riuh rendah karena pendekar
Tangan Kosong terkenal dapat menghancurkan batu karang menjadi debu
dengan sekali pukul, dan benda ini bahkan bolong pun tidak. Merasa
direndahkan, jiwa pendekar Tangan Kosong membara dan melempar benda
tersebut ke udara, disusul dengan lompatannya sembari melemparkan
pukulan-pukulan cepat dan bertenaga disertai dengan gerakan mengitari
benda tersebut seperti bulan mengikuti orbitnya. Jurus pamungkas ini
ternyata hanya meninggalkan penyok-penyok lainnya pada benda tersebut.
Dari balik kerumunan tiba-tiba muncul dua orang pendekar lainnya, yang
satu membawa pedang, dan yang satu lagi hanya membawa tongkat kecil “
Wah… Wahh… gak disangka abang Tang Song si Pendekar Tangan Kosong
jurusnya cemen” ungkap si pendekar Pedang “Sini, biar gw tebas benda itu
sampe jadi serpihan-serpihan”
“Hei, gw dulu sini yang coba ngancurin” tukas pendekar satu lagi yang
membawa tongkat kecil “jurus Elemental gw paling sakti so’al hancur
menghancurkan benda” lanjut dia dengan bangga.
Setelah pendekar Elemental menyelesaikan kalimatnya, benda-benda
tersebut sudah ditebas oleh sang pendekar Pedang menjadi
serpihan-serpihan “Lu tadi ngomong apa Din?” tanya si pendekear Pedang
dari atas tumpukan tersebut.
“Parah lu Dang, main serobot aja! Lagian tu barang masih numpuk gitu” sergah pendekar Elemental.
“Yang penting gw berhasil ngancurin dong, daripada penyok-penyok doang”
“Heh, Apa lu bilang !? sini turun lu, gw patahin pedang lu pake
kelingking gw sini!” jawab pendekar Tangan Kosong dengan penuh emosi.
Tanpa memperhatikan gertakan Tang Song si pendekar Tangan Kosong,
Dadang melanjutkan kata-katanya “Ah, diemin aja sih, ntar juga ilang
sendiri membusuk jadi tanah” semua orang nampak setuju, tapi mereka
salah besar, benda ini tidak dapat membusuk, atau larut oleh air. Hari
demi hari, benda ini tersapu angin dan terbawa air, dalam beberapa bulan
mulai menimbulkan berbagai macam masalah seperti banjir di sekitaran
sungai akibat alirannya yang tertahan, juga membuat berantakan di
berbagai tempat karena serpihan-serpihan benda tersebut yang tidak
kunjung hilang.
Sekali lagi para pendekar berkumpul sembari mengumpulkan serpihan
-serpihan benda tersebut sesuai instruksi dari pendekar Elemental “dari
awal mestinya gw lakukan ini” kata Jardin si pendekar Elemental
“BERGESEKANLAH KALIAN DAN CIPTAKAN API MEMBARA!” teriak Jardin sembari
mengayunkan tongkat kecilnya. Dalam hitungan detik tumpukan benda
tersebut langsung diselimuti api, para pendekar mulai bersorak riuh
melihat benda tersebut akan musnah, sebelum asap hitam mulai mengepul
dari tumpukan benda tersebut, dan bau yang menyesakan merebak. Dengan
sigap Jardin mengayunkan lagi tongkatnya memangil angin lembab untuk
memadamkan api. Meski apinya telah padam, benda tersebut mulai bergerak,
meleleh mengarah ke bantaran sungai, semua pendekar mencoba
menghentikannya, akan tetapi lelehan tersebut terlalu panas bagi mereka,
dan malah menempel di pedang Dadang si pendekar Pedang.
Akan tetapi ilmu tangan besi Tong Song si pendekar Tangan Kosong bisa
bertahan, dia menangkap dan melempar-lempar lelehan benda tersebnut ke
udara, diikuti oleh pendekar Tangan Kosong lainnya. Sekali lagi sembari
meninju-ninju benda tersebut di udara untuk menghempaskan benda tersebut
jauh dari sungai. Setelah bneberapa saat, benda tersebut mendingin dan
berhenti meleleh, dan benda-benda yang dihempaskan oleh para pendekar
Tangan Kosong membentuk objek-objek yang menarik, beberapa tanpa
malu-malu menyentu benda tersebut, dan ternyata lembek seperti tanah
liat, yang lain malah iseng membentuk benda-benda tersebut menjadi
seperti dirinya, orang yang dicintainya, dihormatinya, atau binatang
piaraan mereka. Dan setelah beberapa saat benda tersebut mengeras dan
menjadi seperti benda yang mereka temukan pertama kali. Mereka
menyimpulkan bahwa benda ini bisa di ubah bentuknya bila dipanaskan dan
dibentuk menjadi benda yang mereka mau, benda ini tak sehebat besi, akan
tetapi sangat ringan dan mudah dibentuk. Pelan-pelan mereka semakin
paham pengolahan benda ini, mengubahnya menjadi
perlengkapan-perlengkapan dan perlatan-peralatan yang berguna bagi
kehidupan para pendekar.